Saturday, October 10, 2009

Pejuang Jalanan

Entah jam berapa saat itu tepatnya, tapi sepertinya waktu hampir mendekati maghrib jika ku pandang matahari yang kian hendak bersembunyi. Dan seingatku, aku berangkat selepas Ashar sekitar pukul empat kurang beberpa menit.
Di dalam bus yang penuh sesak itu , aku berdiri di ujung belakang tanpa sebuah jokpun untuk duduk. Tersiksa memang, apalagi saat itu hari sudah petang mendekati berbuka puasa.
Di ujung depan deretan jok penumpang kupandangi 3 orang pemuda yang mencoba mencari peruntungan. Dengan modal 2 buah gitar kecil lagi mungil dan satu set gendang yang terdiri dari 3 buah paralon yang dibalut ban dalam mobil , juga suara yang mereka miliki, mereka mencoba untuk bernyanyi.
“... dan demi nafas yang telah Kau hembuskan dalam kehidupanku...” begitulah potongan syair lagu dari salah satu grup band terkenal yang dibawakan dengan suara yang cukup merdu untuk di dengarkan. Memang kalau harus di bandingkan dengan penyanyi aslinya, masih jauh sekali. Tapi suara mereka cukup ku nikmati, para penumpang lain juga mungkin. Apalagi lagu yang mereka bawakan kental sekali nuansa islaminya. Dan memang sangat cocok dengan suasana Ramadhan saat ini.
Terlihat dari raut mereka, walau dari kejauhan, ku tahu mereka lelah sekali. Berkali-kali naik turun bus cukup menguras tenaga memang, apalagi di bulan puasa ini. Tapi walaupun hari hampir gelap, dan buka puasa semakin mendekat, mereka tetap semangat untuk menghibur para penumpang yang juga sepertinya sudah letih melakukan perjalanan. Walau sebenarnya kutahu tujuan mereka yang utama adalah bukan itu.
Pertama kali bernyanyi, kulihat satu diantara ketiganya bersemangat dalam bernyanyi, tapi tidak dengan kedua temannya, hanya setengah hati bernyanyi, gerakan mulut dua orang itu seolah tak ada semangat, dengan suara yang hampir habis. Tapi kemudian pemuda yang bernyanyi dengan semangat tadi menoleh kepada mereka dan dengan lirikan matanya seolah ia berkata, “bantuin gue dong..!”
Dan akhirnya hingga ketiga lagu didendangkan, mereka berhasil terlihat kompak.
Di penghujung penampilam mereka, seperti yang lainnya, dengan bahasa “minta partisipasi” milik para pengamen, mulailah mereka menyusuri jok demi jok menghampir seluruh penumpang. Aku merasa iba saat ku lihat tak satupun penumpang memberikan “partisipasi” yang diminta mereka. Hanya beberapa yang mencoba mengisi kantong plastik bekas permen yang disodorkan, itupun dengan uang logam dan hanya satu dua uang kertas. Keibaanku itu pun mendorong tangan ini untuk merogoh kantong dan mengambil secarik kertas bergambar pahlawan nasional untuk mengisi kantong yang mereka sodorkan padaku. Juga sebagai wujud penghargaanku karena mereka telah mengingatkanku akan sebuah lagu tentang keagungan Tuhan.
Akhirnya sebelum turun dari mobil, salah seorang dari mereka berbicara dengan setengah tertawa, “es campur kayaknya enak nih..!”
Dua temannya hanya tersenyum tanpa sebuah jawaban dan tanpa sebuh persetujuan pada usulan temannya itu.
Merekapun berlalu untuk bertemu hari yang berbeda namun dengan aktifitas yang sama dan dengan tujuan yang sama pula!
Berjuang untuk tetap bisa hidup.

7 Ramadhan 1430 H
Post a Comment