Tuesday, May 6, 2014

Upacara Seba: Sebuah Pesan

Satu-satunya ritual adat budaya Baduy yang melibatkan orang-orang di luar suku mereka, baru saja usai: upacara Seba. Setiap tahunnya selalu ada saja yang berbeda dan menarik dari upacara yang merupakan tradisi tahunan suku Baduy ini. Pun begitu dengan tahun ini saat saya kembali berkesempatan mengikutinya. Maka izinkan saya membagikan hal yang kiranya mesti diketahui semua.

Tulisan ini bukan tentang perbedaan sebutan Bapa Gede yang kini diganti Ibu Gede karena terjadi pergantian kepemimpinan di Kabupaten Lebak pada upacara Seba kemarin. Bukan pula tentang panggilan Ibu Gede yang hilang di pendopo Gubernur dan digantikan dengan panggilan Bapak Wakil Gubernur -bukan Bapa Gede, karena Ibu Gede sedang tersandung masalah tapi tetap ingin bertahan dijalannya. Juga bukan tentang keikutsertaan saya yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang biasanya bersepeda namun tahun ini ikut berjalan kaki dari Rangkas ke Serang -walau tak sepenuhnya.

Selain ingin menyampaikan dan mengingatkan kembali apa itu upacara Seba  melalui catatan saya 2 tahun lalu disini, dan disini, ada hal lain yang ingin saya sampaikan selain itu semua. Ini tentang pesan yang disampaikan langsung ataupun tak langsung dari apa yang saya lihat, dengar, dan alami saat Seba kemarin.

Bahwa masyarakat Baduy tak pernah tahu apa itu global warming ataupun pemanasan global, tapi rasa-rasanya mereka adalah masyarakat yang paling peduli terhadap hutan dan lingkungan daripada kita.

Masyarakat Baduy juga tak pernah belajar ilmu ekonomi, bahkan sekolahpun mereka tidak, tapi mereka paham dampak pariwisata terhadap ekonomi Banten hingga perkampungan mereka direlakan menjadi tujuan wisata budaya. Dengan risiko mereka akan ‘terkontaminasi’ budaya yang terbawa orang-orang dari luar Baduy. Dan mereka pun sebisa mungkin mereka tidak membatasi jumlah wisatawan yang datang berkunjung kesana, yang jumlahnya kadang bisa membludak saat masa liburan sekolah.

Namun dibalik itu ada keluhan orang-orang Baduy yang dikunjungi masyarakat luar sebagai wisatawan, yang tidak bisa menghormati dan mematuhi budaya dan adat istiadat mereka.

Maka terceritakanlah tentang tenggelamnya pemuda di sungai terlarang di Baduy hingga meninggal, tentang perilaku orang-orang kota yang tetap membawa kebiasaan hura-huranya ke perkampungan suku Baduy, juga cerita ribut-ribut dan obrolan ngalor-ngidul mereka hingga tengah malam disana. Padahal di perkampungan suku Baduy, selepas matahari tenggelam pun sudah hampir tak ada kehidupan. Juga tentang lingkungan hutan dan huma mereka yang tak terjaga dari tangan-tangan jahil di antara kita.

Kata mereka, berapapun banyaknya, sepuluh atau dua puluh bahkan ratusan orang berombongan datang kesana, syaratnya hanya satu: jangan membuat kewalahan. Kewalahan dalam arti kehidupan mereka tak terusik dan terganggu. Caranya adalah dengan mengikuti adat istiadat milik mereka. Toh cuma satu atau dua hari saja kan?

Coba perhatikan di upacara Seba kemarin, saat acara tertunda setengah sampai satu jam di pendopo bersama Bupati dan Gubernur, tak sedikitpun terdengar suara di antara mereka yang telah berkumpul di pendopo. Sunyi senyap. Lihat pula mereka yang mengumpulkan bungkus nasi setelah mereka makan. Bersih tak berserakan. Lihat juga mereka yang berjumlah 17 orang (suku Baduy Dalam) yang berjalan kaki dari Ciboleger hingga ke Serang sejauh sekitar 90 kilometer, mereka selalu beriringan dan selalu berada di sebelah kiri bahu jalan raya.


Mereka begitu menghormati kita bukan saat ada di wilayah kita?
Maka apakah kita tak juga menghormati mereka barang sehari saja saat berkunjung kesana?

*Foto-foto lebih lengkap Seba tahun ini ada disini
Post a Comment