Minggu, 09 November 2014

Pilihan

Sekali pilihan telah ditetapkan, pantang sesungguhnya kita menyesali pada apa-apa yang telah kita pilih dan putuskan. Karena dari sana akan timbul pengandaian. Dan junjungan kita Rasulullah SAW melarang kita untuk mengandaikan pada apa-apa yang telah kita lalui di masa lalu, termasuk keputusan-keputusan yang telah kita buat. Andai aku dulu memilih ini, mungkin akan begini; andai aku dulu tak mengambil ini, bisa saja terjadi ini.

Segala yang telah kita putuskan, walaupun merasa mutlak itu adalah keputusan kita sendiri, sesungguhnya pada itu ada yang menggerakkan kita pada yang kita pilih, disadari atau tidak disadari. Maka sesungguhnya, menyesali sebuah keputusan dan mengandaikan pada yang telah terjadi, bisa menimbulkan rasa ketidakbersyukuran atas apa yang Allah cenderung pilihkan. Ah, aku sudah seperti Jabariyah saja dalam hal ini. Tapi aku tak menganut itu, sungguh. Bagiku, ada lahan yang Allah sediakan pada kita untuk memilih, dan ada pula lahan yang memang kita tak diberi pilihan sama sekali. Dalam hal ini, aku jadi Asy’ariyah sepertinya ya? Pada lahan yang pertama itu kita dianjurkan untuk meminta dipilihkan oleh-Nya melalui apa yang disebut istikhoroh. Istikhoroh adalah tentang pengakuan kelemahan kita pada apa-apa yang tak bisa kita ambil keputusannya sendirian.

Pada akhirnya nanti, kita akan tiba pada masa dimana kita tetap pada pilihan-pilihan yang telah kita putuskan, meskipun ada tawaran untuk mengulang waktu kembali pada masa lalu. Di sanalah kita akan sadar betapa rencana Allah begitu indah atas setiap makhluk ciptaan-Nya. Betapa skenario yang dibuat-Nya amatlah cerdas bagi semua makhluk yang ada. Dari sanalah kita belajar tentang kebersyukuran.

Terlepas dari kita menganut faham Asy’ariyah, Qodariah bahkan Jabariyah, kita tetap butuh Allah untuk memilihkan.

Maka bagi saya selain kumpulan doa-doa, kita saat ini adalah kumpulan keputusan pilihan-pilihan kita di masa lalu.

Tidak ada komentar: