Friday, July 22, 2016

Mulai dari Nol

Ini adalah permulaan. Aku dari yang tak punya apa-apa, bukan siapa-siapa, belum menjadi apa-apa, dengan lancang menghadap ibumu sendirian dengan hanya bermodalkan cinta. Omong kosong macam apa coba? Tapi kau tahu, jawaban dari ibu (dan ayahmu) tak pernah aku sangka: selama kau bisa mencintai anakku seperti aku mencintanya, silahkan saja. Bawa ia.

Ini adalah perkara yang tak hanya melibatkan dua orang: kau dan aku. Bukan. Ini adalah perkara yang mengikutsertakan dua keluarga besar. Negara dan agama juga bahkan ikut di dalamnya. Bahkan kabarnya ada malaikat hadir saat akad terucap. Maka kemudian hubungan ini tak hanya harus direstui penduduk bumi, tapi harus direstui penduduk langit juga.

Ini adalah iftitah. Jalinan hubungan ini membuka segala pintu kabarnya: rezeki, amal baru, saudara, keluarga, bahkan mungkin dunia baru yang berbeda dari sebelumnya. Tapi dari semua itu, sederhana saja bagiku: adalah ketika kau akan nantinya selalu mengingatkanku untuk mendekatkan diri pada-Nya. Karena kau adalah salah satu jalan bagiku menuju surga. Kau bagiku adalah ladang mengumpulkan pahala. Bukankah bergenggaman tangan saja kita sudah mendapatkan ganjaran dari-Nya? Atau selain dari itu, keberadaan kita diakui oleh tetangga dan masyarakat sekitar kita.

Ini adalah sebuah awal. Aku bersamamu seperti mengatur ulang hidup yang akan dijalani ke depan. Merencanakan kembali dimana akan tinggal dan mencari nafkah, dengan cara apa dan lahan seperti apa mengais rezeki, bagaimana mengamalkan ilmu yang dipunyai dan dalam bentuk apa pada masyarakat kita mengabdi, dan hal-hal lebih kecil lainnya yang dibicarakan dan direncanakan bersama.

Ini rasa-rasanya seperti hidup baru. Memulai dari rumah baru, (bagimu) pekerjaan baru, tetangga baru, rencana-rencana baru, petualang-petualang baru, pun dengan masalah-masalah baru. Bukan tak mungkin nanti banyak aral merintang datang. Tapi apapun yang tejadi, percayalah akan selalu ada aku di sisi.

Orang-orang memulainya dari nol, aku dengan terus terang dan sedikit agak malu mengakui bukan hanya dari nol, bahkan dari minus.
Post a Comment