Monday, April 14, 2014

Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri

Puisi membuatku hidup abadi. Bersamanya, aku, juga dirimu takkan pernah mati. Kita ‘kan selamanya hadir dalam satu puisi. Setidaknya, untuk seribu tahun lagi. Jika pun satu masa saat ragaku terkungkung dalam himpitan gelap gulita telah tiba, takkan kubiarkan dengannya aku tak dapat berkirim kata merangkai doa. Dalam setiap baitnya, akan kutulis nama indahmu. Kuukir doa terbaikku untukmu. Kurangkaikan kata terindah tentangmu. Didalamnya kita hanya berdua: aku, kamu.

Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati

Karena dalam setiap baitnya, puisi selalu memiliki jiwa. Dengan kata, kita berbicara tentang makna. Tanpa kata kita ‘kan kaku, ragu, bahkan beku. Jika pun dengannya kita tetap kaku, ragu, bahkan beku, ia ‘kan tetap indah dengan cara yang ia punya. Dengan kata pula kita menyampaikan rindu penuh pilu. Sembilu karena diantara kita tak ada ucap. Hingga akhirnya, kata-lah, yang dengannya ia dapat terungkap. 

Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari

Adalah kata, benda budaya yang tak pernah bisa kita pahami maknanya. Hanya terka yang kita punya terhadapnya. Di dalamnya kita temukan rangkaian aksara miliki jiwa. Aksara itu menjadi terjemah sebuah kosakata bernama cinta. Cinta penuh terka yang berjiwa. Selayaknya jiwa, ia sulit dipahami bahkan oleh pemiliknya sendiri. Namun jika pada satu saat nanti tiba masa tentang rahasia aksara itu, ‘kan kusampaikan padamu. Aku janji.

*Sebuah interpretasi atas sajak Sapardi Djoko Damono, Pada Suatu Hari Nanti (1991)
Post a Comment