Sunday, August 10, 2014

Ujian Kesyukuran

Ingin kuceritakan tentang sebuah nama: Khaerullah. Milik seorang sahabat, sekaligus seteru.

Masih tersimpan dalam ingatanku dulu, saat pertama kali kami bertemu. Ia selalu ingin menjadi yang pertama, sayangnya ada aku. Ia selalu ingin menjadi bintang seorang, sayangnya tak dapat sendirian. Ia ingin menjadi ketua di organisasi, tapi lagi-lagi ada aku. Sudah seperti batu sandungan saja aku dianggapnya.


Semua perseteruan yang kami alami tak menjadi alasan untuk bermusuhan. Bahkan sebaliknya. Semenjak kami sekelas, tak pernah sekalipun kami terpisah tempat duduk. Selama dua tahun di sisa hidup kami di sekolah menengah pertama, kami selalu berbagi meja. Kami bersaing sengit sekaligus berteman akrab. Kami berseteru namun berkawan dekat. Kemana-mana berdua. Bahkan sudah seperti sepasang kekasih saja. Pelajaran kesukaan kami sama, ekstrakurikuler yang kami ikuti sama, hobi kami sama, guru favorit kami juga sama. Perempuan yang kami puja saja tak sama. Kami adalah kawan tempat saling berbagi, bermain, bergurau, juga diskusi. Bersamaan dengan itu kami pun adalah rival abadi, hingga kini.


Sampai pada akhirnya selepas lulus SMP, ku ajak ia untuk kembali satu sekolah agar dapat duduk semeja. Ia menolak dengan jawaban: aku bosan menjadi nomor dua. Begitulah kira-kira jawabannya. Dan aku terima.


Benar saja, keinginannya terpenuhi: juara kelas, selalu rangking pertama, ketua organisasi sekolah, juara berbagai lomba, semua didapatkannya selama SMA. Walau pada satu kesempatan pada sebuah lomba tingkat kabupaten, kami bertemu mewakili sekolah masing-masing. Dan ia kembali menjadi nomor dua.


Bagiku ia adalah ujian. Ujian agar aku tak pongah dan takabur atas apa yang aku dapatkan. Agar aku tak sombong atas apa yang aku usahakan.


Berselang beberapa tahun kemudian, kami berpisah tanpa kabar. Ku temui kembali ia saat telah mengenakan toga di jurusan impiannya. Jurusan yang sesuai dengan pelajaran favorit kami dan sempat kami rebutkan saat olympiade SMA: Teknik Kimia. Sedangkan aku? Baru melewati setengah perjalanan untuk mendapatkan gelar sarjana. Aku juga berada di jurusan yang tak pernah terbayangkan dan tak pernah dicita-citakan: Ekonomi Islam.


Dan ia kembali menjadi ujian. Ujian agar aku tak kufur nikmat atas apa yang telah Allah limpahkan. Agar tak membanding-bandingkan jalan hidup yang telah Allah gariskan.


Ada saat aku merasa menang, dan ada pula saat dimana aku merasa dikalahkan. Walau definisi menang-kalah dalam hal ini masih dalam perdebatan. Hingga akhirnya, pada hari ini aku merasa ia kembali menang. Memenangkan hati seseorang: wanita pujaan. Dan aku? Masih disini belum beranjak menemukanmu.


Maka atas semua ceritaku, sahabat sekaligus seteruku itu, adalah sebenar-benarnya ujian: ujian kesyukuran.
Post a Comment