Selasa, 20 Oktober 2009

KONTRADIKSI (1)

Semenjak Ahad, 24 Juli 2005 tinggal di CMBBS dan kemudian mengenal semua anak dari angkatan pertama hingga ketiga dan sebagian anak angkatan keempat hingga saat ini, saya Achmad Anwar Sanusi namun lebih sering dipanggil Uchie atau bahkan hampir semua anak angkatan pertama CMBBS lebih senang dengan panggilan Bocay, yang selanjutnya disebut Penulis, dalam sebuah perenungan tak disengaja di awal Ramadhan tahun ini, menemukan orang-orang yang berkarakter unik yang kontradiktif diantara teman-teman dan adik-adiknya itu.
Kontradiksi yang Penuli
s kategorikan adalah anak-anak CMBBS yang memiliki kontradiksi dalam dalam hal sifat atau perilaku/sikap ataupun kebiasaan yang dimiliki. Bukan dalam hal fisik.

Ini semua adalah pandangan pribadi Penulis terhadap orang-orang yang dikenalnya, jika menemukan sesuatu yang tidak cocok dan tidak sesuai mohon dimaklum.
Bagian yang pertama ini hanya akan menampilkan 3 kategori saja dulu, yang selanjutnya akan ditampilkan secara bertahap.

Inilah mereka....



Urfi X Dwiningrum


Sebelumnya Penulis percaya pada sebuah pribahasa berbunyi, “tong kosong nyaring bunyinya”. Tapi setelah mengenal selama 3 tahun seorang perempuan bernama Urfi Syifa Urrohmah, pribahasa itupun tak lagi percayainya..!

Jika pertama kali orang melihatnya, mungkin kesan pertama yang muncul adalah ketidakyakinan dan takkan terbayang kalau perempuan kelahiran Tangerang, 09 November 1990 ini adalah orang yang “nyaring bunyinya”. Namun bukan berarti dia kosong, tapi justru sebaliknya.

Apa yang ia bicarakan dan apa yang ia kemukakan, hampir semuanya adalah pengetahuan. Analisisnya bukan hanya sekedar omong kosong. Bicaranya cepat, penyampainnya lugas dan apa yang dibicarakan akan dapat meyakinkan orang yang menjadi lawan bicaranya, siapapun itu…, guru sekalipun.

Gayanya yang khas, menggebu-gebu jika berbicara, penuh semangat jika mengemukakan pendapat, nyrocos istilahnya dan juga ngotot jika sudah berdebat, membuatnya disegani, dan tak heran jika ia sering mengikuti berbagai lomba debat.

Dan jika di minta pendapatnya tentang suatu hal, dia akan menjelaskan panjang lebar dengan susunan kalimatnya yang tanpa titik dan koma, saking panjangnya, mungkin apa yang dia kemukakan dapat di buat sebuh buku. (lebay..!)

Saking nyerocosnya dia ngomong, pernah ada yang menggambarkan kecepatan berbicaranya itu seperti ojeg dari kuranten yang meluncur ke maja tanpa sebuah rem, hhe…

Sehingga kalau debat, takkan pernah ia ngasih kesempatan lawan debatnya untuk “menyalip” pembicaraanya itu.

Ia termasuk orang yang berpengaruh di CMBBS, dan tidak berlebihan jika penulis kemudian Penulis menyebutnya sebagai wanita paling berpengaruh di angkatan 1, itulah kemudian yang menjadikannya “ibunya angkatan” alias ketua angkatan hingga saat ini.

Kini ia sedang menempuh kuliah semester III Hubungan Internasional di Universitas Gajah Mada Yogyakarta, yang akan mengantarkannya menjadi seorang diplomat yang memang sudah menjadi cita-citanya sejak dulu..

Sampai saat ini, Penulis belum menemukan orang yang bisa dikatakan sebagai penggantinya.

Pokoknya tak tergantikan deh, tapi entah nanti..

Cayo Fi… buktikan kalo yang nyaring itu tak selalu tong kosong..!




Namanya Dwiningrum, Dwiningrum Prihastiwi lengkapnya.

Dia ini orang yang paling pelit banget kalau berbicara, hemat, simple, tak panjang-panjang.

Hhe…

Sebenernya penulis punya kandidat lain untuk kategori ini, Wita Anjenia angkatan pertama. Namun fakta membuktikan, perempuan yang sering di panggil ukhti Daday ini lebih pendiam dari pada Wita Anjenia. Bukan hanya di tempat umum, dikelas, atau tempat lainnya, tapi di kamar sekalipun, ia terkenal pendiam banget dan hemat dalam berbicara.

Saking hematnya, Jika Penulis bertemu dengannya dan kemudian menanyakan kabarnya, ia hanya menjawab,

“Alhamdulillah khoir”.

Bahkan pernah sekali waktu jawaban dia lebih simpel lagi,

hanya sebuah senyuman..!

Tapi jangan dikira jangan disangka, pendiem-pendiem gini juga dia itu ahli bela diri lho..

Dia ikut eskul tapak suci dan memang aktif kegiatan bela diri semenjak SMP Bahkan dia termasuk atlet bela diri.

Penulis pun pernah menyaksikan langsung kehebatan gerakannya di suatu pagi setelah berolahraga. Setelah lari pagi dia terlihat sedang berlatih suatu gerakan atau jurus -bahasa bela dirinya- bersama temannya.

Wah sungguh, ternyata dibalik sikap pendiamnya itu tersimpan sebuah kekuatan yang luaar biasa (apa coba??)

Penulispun kemudian bergumam dalam hatinya, “kayaknya ane kalah nih kalo harus berantem ma dia..!”

Hahaha...



Mia X Rahma


Terjulur jilbab yang dipakainya, gamis selalu pakaiannya, lebih banyak diemnya, sangat rapi apa yang di gunakannya dan tertutup rapi banget auratnya.

Pokoknya perempuan ini pandai menutup diri deh.., baik luar maupun dalam. Pokoknya dia akhwat banget..! Dan dia memang lebih senang dengan panggilan itu.

Mia Nurnajiah, anak angkatan 3 jebolan Galaxter dan Ma’ana Class dan saat ini member of Salazar Slytherin.

Ia adalah teman diskusi Penulis dalam berbagai masalah fiqih.

Pokoknya yang pertama kali ia tanyakan setelah kabar adalah sebuah masalah tentang fiqih yang kemudian asyik untuk di jadikan bahan diskusi.

Terkadang, saking hausnya ilmu, ketika bertemu Penulis, dia langsung ke inti permasalahan tanpa pembukaan atau basa-basi menanyakan kabar.

Buktinya baru-baru ini pas ketemu di CM, bukan kabar yg pertama ia tanyakan, tapi ia bertanya, “al akh kok ane buka e-mail ga ada..?” katanya menanyakan permasalahan fiqih yg belum sempat di jawab Penulis lewat e-mail.

Pokoknya dia tuh haus ilmu banget.

Walau dia sering sekali menjadi teman diskusi Penulis, namun sedikit yang bisa diinformasikan tentangnya karena memang dia tertutup. Karena yang dia bicarakan kadang seperlunya saja. Pokoknya dia tertutup banget,.





Moy, begitulah di kalangan teman-temannya ia biasa di panggil. Tapi Penulis lebih senang memanggilnya Amoy! Hingga pernah ia ngotot kalo dia bukanlah Amoy tapi Moy.

(Begitulah dia, keseringannya ngotot daripada cemberut atau nangis. Hhe…)

Sebenarnya Penulis punya dua orang yang masuk nominasi ini, kedunya dari angkatan yang sama dengan Amoy ini, Pretty Noviannisa alias Pipi dan Desi Laelasari alias Desil. Tapi setelah mengenal beberapa lama, Penulis menyimpulkan bahwa perempuan bernama lengkap Rahmawati Nurul Hidayat (pake “i” ga ya??) ini adalah kontradiksi dari Mia Nurnajiah kakak kelasnya.

Perempuan konsulat Tangerang namun kata-kata dalam hampir setiap obrolannya penuh dengan bahasa Sunda seperti; mah, geh, tuh, dll. ini lebih banyak maskulinnya daripada feminimnya.

Bagaimana cara bicaranya, cara jalannya, cara duduknya, cara ngototnya juga, pandangan matanya, beda banget dengan perempuan pada umumnya. Jauh dari kesan feminim.

Intinya dia adalah perempuan yang paling tomboy yang pernah Penulis kenal selama hidupnya.

Tapi Penulis yakin dibalik kemaskulinannya dan ketomboyannya itu pasti ada sisi feminim yang ia miliki yang suatu saat akan mendominasi dan Penulis berharap suatu saat ia akan menjadi benar-benar akhwat yang feminim.

Walau kadang Penulis pesimis dikarenakan ucapannya, “dia ya dia,, ana ya ana..! I just want to be my self!” . Saat Penulis menceritakan seseorang yang dulunya tomboy namun sekarang menjadi feminim.

Dia kayaknya keukeuh dengan sikapanya itu.

Tapi bisa jadi dalam hatinya itu, ia adalah akhwat sejati yg penuh dengan ke-feminimisme-an. Mungkin selama ini dia hanya berpura-pura saja…

Hhe...

Satu hal yang Penulis senang darinya, dia itu selalu terlihat ceria didepan orang lain. (kecuali didepan Penulis, jutek terus bawaannya! hhaha..)


Temen ngobrol Penulis ini (kalo dia baca tulisan ini, pasti akan menimpal dengan gaya bicaranya yg khas, “temen?? Kapan kita temenan!!?? emang al akh punya temen??”), lebih tepatnya temen debat Penulis ini (Amoy: “lebih tepatnya lagi musuh..!”) selalu menamakan dirinya sebagai pelajar yang mulai bosan belajar.

Tapi akhir-akhir ini ia rubah dengan statemennya,

sekarang tuh lebih tepatnya, adalah seorang pelajar yang sudah bosan belajar!”

Gubrackh..!

Amoy…Amoy…! Kamu tuh ya…!





Rifa X Pohan

Dia yang selalu di panggil abah, entah kenapa..?

Dia yang selalu berteriak “Allahu Akbar” didepan asrama sebelum berangkat sekolah,

Dia yang suka berolahraga hampir setiap hari, pagi atau sore,

Dia yang suka berjalan dengan cepat yang kadang terkesan tergesa..,

Dia yang selalu terlihat super sibuk,

Dia yang selalu semangat dalam setiap kegiatan, (ga setiap sih, buktinya ESQ ngga tuh.. hhe..)

Dia yang suka bernyanyi nasyid dengan suara tinggi, yang kadang ngeselin, (piss..!)

Dia yang menjadi distributor salah satu majalah bulanan,

Dia yang menjadi qismul masjid namun kemudian berganti menjadi qismul amni,

Dia yang tercepat dalam lari sprint se CMBBS,

Dia pula yang staminanya paling kuat saat tes olahraga,

Dia yang fisika pelajaran favoritnya,

Dia yang senang bercocok tanam,

Dia yang paling rajin mengunjungi hampir seluruh temen-temennya ketika liburan,

Dia yang kini menjadi mahasiswa di IPB,

Dia yang kuliah jurusan Aronomi dan Holtikultura disana, cocok banget..

Ya..!

Dialah,,

RIFA RUSIFA

Atau RR






Semua tahu, jika berkunjung ke asrama putri (sekarang masqod),

tulisan yang pertama kali terlihat di jendela kamar 201 adalah “calminity”, (entah sekarang masih ada atau tidak)

Tulisan tertuju pada siapakah itu??

Siapa juga yang membuatnya??


Siapa lagi kalo bukan, Peni Listiyani Pohan,

Perempuan kelahiran 19 tahun silam ini benar-benar cocok dengan julukan yang dibuatnya sendiri. Sampai-sampai alamat e-mailnya pun sama dengan julukannya tersebut.

Anak Maja ini (awas, bukan maskan jadid ya??) benar-benar calm deh..!

Gambarannya seperti ini,

Jalannya, sloooow, (banget),

Gerakanya soooft, (banget),

Gayanya cooool,,

Sikapnya lembuut,,

Cara bicaranya perlaha-lahan dan halus..

Pokonya ga bisa di jelasin,,

Bahkan dia pernah menyebut dirinya orang paling cool dan calm di CMBBS.

Dan memang sampai saat ini, sepengetahuan Penulis, tak ada siswa/i CMBBS yang mengeluarkan statmen itu sebagai pengganti Pohan.

Entah apakah mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Jakarta ini masih mempertahankan kekalemnya itu hingga saat ini?

Penulis sudah lama tak bertemu dengannya.

Tapi sepertinya terlihat dari smsnya,

ngga berubah tuh..!

(emang bisa ketahuan?? Ngaco...!!)



to be continued..



Sabtu, 10 Oktober 2009

Pejuang Jalanan

Entah jam berapa saat itu tepatnya, tapi sepertinya waktu hampir mendekati maghrib jika ku pandang matahari yang kian hendak bersembunyi. Dan seingatku, aku berangkat selepas Ashar sekitar pukul empat kurang beberpa menit.
Di dalam bus yang penuh sesak itu , aku berdiri di ujung belakang tanpa sebuah jokpun untuk duduk. Tersiksa memang, apalagi saat itu hari sudah petang mendekati berbuka puasa.
Di ujung depan deretan jok penumpang kupandangi 3 orang pemuda yang mencoba mencari peruntungan. Dengan modal 2 buah gitar kecil lagi mungil dan satu set gendang yang terdiri dari 3 buah paralon yang dibalut ban dalam mobil , juga suara yang mereka miliki, mereka mencoba untuk bernyanyi.
“... dan demi nafas yang telah Kau hembuskan dalam kehidupanku...” begitulah potongan syair lagu dari salah satu grup band terkenal yang dibawakan dengan suara yang cukup merdu untuk di dengarkan. Memang kalau harus di bandingkan dengan penyanyi aslinya, masih jauh sekali. Tapi suara mereka cukup ku nikmati, para penumpang lain juga mungkin. Apalagi lagu yang mereka bawakan kental sekali nuansa islaminya. Dan memang sangat cocok dengan suasana Ramadhan saat ini.
Terlihat dari raut mereka, walau dari kejauhan, ku tahu mereka lelah sekali. Berkali-kali naik turun bus cukup menguras tenaga memang, apalagi di bulan puasa ini. Tapi walaupun hari hampir gelap, dan buka puasa semakin mendekat, mereka tetap semangat untuk menghibur para penumpang yang juga sepertinya sudah letih melakukan perjalanan. Walau sebenarnya kutahu tujuan mereka yang utama adalah bukan itu.
Pertama kali bernyanyi, kulihat satu diantara ketiganya bersemangat dalam bernyanyi, tapi tidak dengan kedua temannya, hanya setengah hati bernyanyi, gerakan mulut dua orang itu seolah tak ada semangat, dengan suara yang hampir habis. Tapi kemudian pemuda yang bernyanyi dengan semangat tadi menoleh kepada mereka dan dengan lirikan matanya seolah ia berkata, “bantuin gue dong..!”
Dan akhirnya hingga ketiga lagu didendangkan, mereka berhasil terlihat kompak.
Di penghujung penampilam mereka, seperti yang lainnya, dengan bahasa “minta partisipasi” milik para pengamen, mulailah mereka menyusuri jok demi jok menghampir seluruh penumpang. Aku merasa iba saat ku lihat tak satupun penumpang memberikan “partisipasi” yang diminta mereka. Hanya beberapa yang mencoba mengisi kantong plastik bekas permen yang disodorkan, itupun dengan uang logam dan hanya satu dua uang kertas. Keibaanku itu pun mendorong tangan ini untuk merogoh kantong dan mengambil secarik kertas bergambar pahlawan nasional untuk mengisi kantong yang mereka sodorkan padaku. Juga sebagai wujud penghargaanku karena mereka telah mengingatkanku akan sebuah lagu tentang keagungan Tuhan.
Akhirnya sebelum turun dari mobil, salah seorang dari mereka berbicara dengan setengah tertawa, “es campur kayaknya enak nih..!”
Dua temannya hanya tersenyum tanpa sebuah jawaban dan tanpa sebuh persetujuan pada usulan temannya itu.
Merekapun berlalu untuk bertemu hari yang berbeda namun dengan aktifitas yang sama dan dengan tujuan yang sama pula!
Berjuang untuk tetap bisa hidup.

7 Ramadhan 1430 H